Sabtu, 21 November 2015

resensi "Cinta Tak Mendendam"






Judul Resensi  : Hati Tak Dapat Membohongi
Judul Buku      : Cinta Tak Mendendam
Penulis             : Petra Shandi
Resensator       : Aldelia Shielda Rasyid
Penerbit           : Zettu
Tahun Terbit    : 2013
Halaman          : ix + 382
ISBN               : 978-602-7999-73-2
Cetakan ke      : Satu (Tahun 2013)
Jenis Buku       : Fiksi
Jenis Kertas     : Bookpaper
Harga              : Rp 65.000,00
Novel perdana yang ditulis Petra Shandi berjudul Cinta Tak Mendendam terbit pada  tahun 2013. Disusul dengan terbitnya novel berjudul Cattelya (Buku Solo), Pirouette Love ( kolaborasi dengan M.Arif Budiman dan Erlinda Jilly Madhan), Antologi Senarai Tarian Imaji, Kumpulan Cerpen Bersoundtrack 100% Cinta, Antologi World Of Fantasy, Antologi Kita Kata Cinta, Ketika Aku Halal Untukmu, Antologi Patah hati, Dalam Genggaman Tangan Tuhan, Writing Dream, dan beberapa antologi lain yang sedang dalam proses terbit.  Pria yang lahir di  Subang pada Pebruari 1983 ini memiliki berbagai macam hobi. Hobi yang ia sukai selain menulis adalah memberikan motivasi kepada para penulis pemula. Sebenarnya ini tidak dapat dikatakan sebagai hobi, namun karena sering melakukannya maka Beliau sendiri yang menyatakan hobi barunya itu. Ia berpendapat bahwa " tidak ada yang hobi yang memiliki sifat negatif  hanya saja bagaimana cara mengapresiasikannya yang dapat menimbulkan dampak negatif". Untuk menyalurkan bakat dan hobinya, ia bergabung dalam grup Pustaka Inspirasi-ku. Beliau juga tak segan-segan memberi contoh langsung bagaimana cara menulis cerpen yang benar terhadap para penulis pemula.
Amree jatuh cinta pada seorang perempuan yang menghubungkannya dengan kisah tragis masa lalunya. Sepuluh tahun yang lalu, tanpa sengaja dirinya menabrak mati seorang lelaki bernama Budi Irawan. Lewat politik uang yang dimainkannya. Hadi berhasil menyuap aparat kepoisian dan menbungkam mulut Marwan, saksi tunggal atas kejadian sepuluh tahun silam itu. Takdir mempertemukan Amree dengan Winda. Rahasia perlahan terbuka kala diketahui Bima, sekretaris Amree sekaligus anak dari saksi mata, Marwan. Puncaknya Bima mengetahui Winda adalah anak Budi Irawan dari Wisnu. Rahasia tersibak saat Marwan bersikeras menemui keluarga Budi Irawan yang tanpa disadari Amree tepat berada di sana pengakuan tersebut. Bagaimana nasib Amree selanjutnya? Lalu cinta mereka? Nama baik keluarganya? Dan kelangsungan Quantum? Apakah Amree dapat menyelesaikan sekian banyak masalah dalam satu waktu?
            Sampulnya menarik, pemilihan warna yang lembut dan ilustrasi padang rumput dengan sebuah pintu tertutup dan awan berbentuk hati. Bahasa yang digunakan memudahkan pembaca memahami isi cerita. Menarik minat pembaca dari awal cerita karena dalam novel ini bahasanya sangat komunikatif. Semua tokoh dalam cerita ini mempunyai benang merah yang menghubungkan mereka. Selain percintaan, buku ini juga menceritakan tentang sosok ayah dengan kisah yang berbeda-beda tiap tokohnya.
            Dibeberapa halaman ada diksi dan penempatan kata yang kurang tepat. Kesalahan tersebut dapat kita jumpai pada halaman 221, kurang kata satu. Halaman 261, kurang kata mendengar. Halaman 319, pengulangan kata tidak. Halaman 325, seharusnya celoteh maha.
            Novel Cinta Tak Mendendam ini sangat inspiratif, dapat menjadi inspirasi bagi penulis pemula. Mungkin cerita ini kesannya 'sinetron' banget, tapi dijamin para pembaca tidak akan kecewa karena ceritanya tidak flat. Beberapa bagian mungkin bisa ditebak, tapi konflik yang dihadirkan sangat menarik. Direkomendasikan bagi anda pecinta novel romance yang mencari cerita yang ringan. Novel ini juga sangat direkomendasikan bagi anda penyuka Korea. Belakangan ini budaya Negeri Gingseng sedang marak, khususnya drama. Pola cerita dan karakter para tokoh mirip dengan tokoh di drama-drama Korea. Tapi gaya bahasanya tetap Indonesia, ber-setting di Bandung dan budaya lokal tetap kental terasa.

            Jika dilihat dari sampulnya, pembaca tak akan menyangka bahwa cerita yang disuguhkan akan menangandung makna ketakutan, kekecewaan dan penyesalan. Sampul hanya dapat mewakili akhir cerita yang indah dan tenang tidak menggambarkan isi cerita secara utuh. Namun dari itu pula penulis memberi kesan tersirat pada pembaca. Penggambaran setiap tokohnya sangat detail sehingga mempermudah pembaca untuk mengikuti cerita yang disajikan. Pembangunan sifat, suasana dan tokohnya memberikan kesan tersendiri bagi pembaca novel Cinta Tak Mendendam ini.

SINOPSIS
            Tersiar kabar bahwa Amree lah yang akan menggantikan posisi ayahnya, Hadi Prabowo sebagai direktur utama di Quantum. Berita itu juga ditegaskan oleh neneknya Sarifah yang memimpin pada rapat keluarga membahas tentang siapa yang akan menjadi penerus Quantum nanti. Rasa iri itu datang begitu cepat menguasai Maha, sepupu Amree yang selalu di nomor duakan oleh neneknya sendiri. Ia merasa ialah yang pantas menduduki posisi tersebut karena mempunyai andil yang besar dalam memajukan perusahaan hingga sebesar saat ini. Namun ia tak tidak punya pilihan lain selain menyetujui hasil rapat tersebut. Ia dan Bagas, ayahnya tidak dapat mengoreksi bahkan membantah keputusan tersebut. Karena setiap keputusan Sarifah bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. Selain itu mereka juga mengingat tuduhan Sarifah yang menyalahkan Bagas sebagai sebab putrinya, Sophia meninggal 25 tahun silam tepat saat Maha berumur 5 tahun.
Disisi lain Amree tidak menyutujui keputusan tersebut. Semua beban serasa berada di pundaknya saat ini. Bayang-bayang kecelakaan sepuluh tahun silampun masih belum dapat disembuhkannya. Hingga usianya kini genap 33 tahun, kecelakaan naas yang merenggut korban jiwa itu selalu terbayang ketika malam datang. Kejadian itu bagai video yang diputar berulang-ulang di mata yang terpejam hingga mimpi buruk menghiasi setiap malamnya. Kejadian itu bermula saat ia akan pulang ke apartemen setelah bersenang-senang bersama teman-temannya semalam suntuk. Ia memaksa pulang pada pukul 2 dini hari. Ketika itu ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan keadaan mengantuk.
Ia sadar  beberapa detik setelah mengerjapkan mata. Dalam sekelebatan mata ia melihat orang yang berdiri di tengah jalan sedang menyeberang. Berusaha menguasai mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi menuju satu titik yang sekarang membatu di sana, mengerti takdir akan menjemputnya. Amree menginjak rem dengan satu pijakan keras, suara berdecit terdengar sangat nyaring. Hingga suara hantaman keras menghentikan laju mobil tersebut. Amree segera turun dari mobil dan melihat sekitarnya yang sangat sepi. Ia menghampiri sang korban, memeriksa detak jantung yang berdetak sangat lemah. Hembusan nafas lemah membuat Amree sedikit bernafas lega. Tak jauh dari jalan, ada seorang pemuda yang melihat kejadian yang terjadi beberapa detik lalu. Ia tertegun ketika melihat wajah Amree yang memucat. Ketika sadar, pria itu langsung meraih HP dari kantong baju yang lusuh.
Amree menghamipirinya ketika suara berat menjawab diseberang telfon. Reflek, tangannya menggenggam erat dan memohon agar tidak melanjutkam pembicaraan yang ia ketahui diseberang telfon sana adalah seorang polisi. Setelah malam itu Amree tidak keluar kamar selama 2 hari. Amree baru keluar dari kamarnya seetelah mendengar bahwa korban yang ia tabrak itu tewas dalam perawatan para dokter. Ia pun tak melihat media yang memuat berita tersebut dan para pihak berwajib yang akan membawanya ke sel jeruji besi yang dingin. Semuanya telah disuap oleh Hadi dengan uang yang nominalnya sangat besar. Termasuk dengan saksi mata tunggal malam itu.
Hingga akhirnya ia mengalami depresi yang berkepanjangan dan sangat mempeharuhi pertumbuhan mentalnya. Ia pun tak segan-segan melukai dirinya sendiri ketika bayangan itu muncul. Keadaan Amree semakin hari semakin memburuk hingga membuat cemas semua keluarganya, sehingga mereka membawa Amree ke dokter psikologi bernama Dimas. Terapi pun mulai dijalani Amree selama 5 tahun dan keadaanya mulai stabil sejak itu. Namun sejak itu pula Amree tergantung oleh obat penenang yang diberi oleh dokter Dimas kepadanya. Amree telah lama menggeluti dunia lukis. Karena itu pula ia menolak untuk menjadi penerus Quantum di tempo hari. Ia selalu melukiskan tentang yang ia alami. Ia juga melukis Budi Irawan, korban jiwa dalam kecelakaan 10 tahun silam.
Mengetahui anaknya akan menolak untuk menggantikan posisinya sebagai direktur. Hadi menemui Amree di apartemennya untuk membujuk anaknya agar mau menjadi penerus perusahaan Quantum. Kemarahan Amree meladak pada saat itu juga karena menganggap keluarganya tidak menghargai pendapatnya dan meninggalkan Hadi ketika ia memanggil nama Amree dengan nada tinggi yang memenuhi ruangan. Ia menelusuri jalan dalam kegelapan tanpa tujuan. Hingga langkahnya berhenti di sebuah apartemen mewah yang penghuninya tak lain adalah sepupunya, Maha. Dengan keraguan ia perlahan menuju pinta dan mengetuk pelan, tak lama ketika maha membukanya Amree langsung bergelung di sofa dan menceritakan soal perusahaan itu. Seketika itu juga wajah Maha berubah menjadi merah padam ketika Amree menceritakan tentang posisi yang akan diberikan padanya.
Maha hanya bisa menyembunyikan rasa irinya dalam sebuah senyuman dan memberi beberapa saran pada Amree. Setelah merasa tenang Amree ijin untuk pulang. Ditengah perjalanan hujan turun tanpa diundang dengan derasnya hingga memaksa Amree berteduh. Tak jauh dari tempat ia berdiri ada halte yang temaram. Dengan berlari-lari kecil ia sampai di halte itu, namun sia-sia ia berlari tadi karena sekarang bajunya sudah basah kuyup ditambah lagi dengan  angin bertiup sedang hingga membuatnya menggigil. Tanpa ia sadari yang berada di halte hanya ia dan seorang gadis yang entah mengapa membuat jantungnya berdegub lebih kencang dari biasanya. Mata Amree tak dapat beralih dari paras cantik gadis yang pergi menjauhinya dan hilang di tikungan jalan bersama sang adik yang menjemputnya. Amree membayangkan gadis kecil yang duduk tak jauh darinya beberapa menit lalu dan menghirup dalam-dalam aroma yang ditinggalkannya. Amree berharap dapat bertemu gadis kecil itu lagi.
Pagi itu Amree cukup dibuat pusing oleh mobilnya yang sudah 3 kali masuk bengkel dalam sebulan terakhir ini. Ternyata pusing terhadap mobilnya belum berhenti, ia mendadak ditugaskan oleh kantornya untuk menghadiri rapat penting di jalan Asia-Afrika. Padahal jalan itu lumayan jauh dari kantornya. Ada pemikiran untuk menggunakan mobil kantornya, namun tak beruntungnya Amree hari itu. Mobil kantorpun semua sudah digunakan oleh teman sekantornya. Bima, sekertarisnya menyarankan untuk menggunakan angkot atau taksi. Karena tak punya banyak pilihan Amree memilih naik taksi, namun hampir setengah jam ia menunggu tak ada satupun taksi yang kosong untuknya. Dengan berat hati ia memilih angkot sebagai kendaraannya saat ini dan berharap angkutan itu tidak penuh. Rasa kelegaan Amree meluap ketika melihat angkutan itu tak sepenuh yang ia pikirkan.
Tak sengaja pandangannya jatuh dimata gadis yang duduk tepat di depannya. Butuh waktu lima detik bagi Amree untuk mengingat siapa gadis itu. Merasa diperhatikan gadis itu salah tingkah dan ada roda merah dikedua pipinya. Pemandangan itupun membuat Amree menjadi kikuk, dalam hatinya ia ingin memanggil gadis itu namun dia sendiri tidak tau namanya dan mempunyai inisiatif tuk mengajak berkenalan. Amree mngulurkan tangan dan menyebutkan namanya, nnamun tak ada tanda-tanda tangan gadis itu akan menyambut tangannya maka dengan dengan perasaan malu atas pandangan mata yang tertuju padanya ia menurunkan tangan dan mengistirahatkan di kedua lututnya. Ada senyum sinis yang terbingkai di parasnya yang cantik membuat Amree yang melihat semakin geram dibuatnya. Tak lama gadis itu turun dengan pandangan yang menyiratkan " rasain lu " yang ditujukan pada Amree.
Amree pun tak mengindahkan pandangan yang ditujukan kepadanya itu. Teringat akan tujuannya ia turun dengan tergesa-gesa karena jalan Asia-Afrika sudah terlewat jauh. Baru 2 langkah menjauhi angkot ia dihantam kendaraan bermotor. Untungnya kecepatan motor itu masih tergolong pelan. Setelah membersihkan debu dan melihat ada beberapa luka ringan di sekitar lengannya, ia berniat memarahi anak yang menabraknya itu namun diurungkannya ketika menyadari bahwa yang sekarang berada di dekatnya adalah adik dari gadis di angkot tadi. Anak laki-laki itu memperkenalkan namanya Wisnu dan kakaknya Winda. Wisnu membawa Amree ke rumahnya untuk mengobati lukanya. Ketika sampai di depan rumah tiba-tiba pintu terbuka. Dengan mata yang terbelalak Winda  membawa Amree dan adiknya masuk. Winda dan ibunya membagi tugas untuk mengobati kedua laki-laki tersebut. Winda mengobati Amree dan ibunya mengobati Wisnu. Mata yang tak dapat berkedip, nafas yang tercekat di tenggorokan dan desiran atas sentuhan yang mendarat di tubuh Amree memberikan efek tersendiri bagi khayalan yang mempenuhi akalnya saat itu.
" Coba aja kamu lebih gentle sedikit, mungkin aku naksir sama kamu. ini ngajak berantemmelulu." (h.66.)

Kejadian itu menjadi awal kedekatan Amree dengan Winda. Diluar dugaannya, Amree diterima sangat baik oleh keluarga Winda terutama sang ibu yang menganggap Amree sebagai anaknya sendiri. Itu membuat Amree kembali mengingat serpihan ingatan kecilnya pada masa lalu. Betapa indahnya hidup dengan anggota keluarga yang lengkap dan saling menyayangi. Keadaan itu membuat Amree merasa nyaman di tegah keluarga Winda. Lalu beberapa bulan setelahnya Amree mengatakan perasaannya kepada Winda. Tanpa diduga Amree reaksi Winda membuat Amree khawatir. Bagaimana tidak ketika Amree selesai berbicara tangisan Winda pecah saat itu juga. Namun itu hanya tangisan kebahagia Winda.
" Seandainya waktu itu datang, dan aku harus membayar  kesalahanku di sel penjara. Mungkin tak bisa lagi mengungkapkan kata cinta ini." (h. 216.)

Dengan desakan Sarifah, Amree memperkenalkan Winda dengan keluarga besarnya. Yang membuat Winda kaget adalah kehadiran Maha. Sebenarnya ia lebih dulu kenal dengan Maha dari pada dengan Amree. Ia pun masih mengagumi sosok Maha hingga kini.
" Kamu tau Maha, kamu itu terlalu sempurna. Saking hebatnya aku tidak bisa menemukan sesuatu disana". (h. 67.)
Hingga suatu hari Amree dipertemukan oleh saksi mata tunggal atas kejadian 10 tahun silam yang telah ia kubur dalam hidupnya. Tanpa di duga saksi mata itu tak lain adalah abah Bima yang bernama Marwan.
" Pada awalnya abah akan menceritakan semua kebenaran pada polisi. Namun tiba-tiba tubuh abah dihalau segerombolan preman yang memaksa abah memasuki mobil mewah. Di sana pengusaha ternama Hadi Prabowo menawarkan sesuatu yang membuat imam abah goyah. Uang seratus juta untuk menutupi pelanggaran anaknya. Abah yang sedang kalut saat itu tidak bisa berbuat apa-apa. Seratus juta bisa untuk biaya kehidupanmu kelak. Di sanalah semuanya berawal."
(h. 362.)
Kelegaan terasa setelah keduanya menumpahkan isi hati masing-masing. Namun kelegaan sebenarnya akan terasa ketika sudah meminta maaf kepada pihak korban. Marwan ingin meminta maaf atas pengakuan palsunya dan Amree igin meminta maaf atas perbuatannya yang membiarkan keluarganya menutupi segalanya dengan uang yang mereka miliki dan yang paling penting adalah meminta maaf atas perbuatannya sendiri. Entah konskwensi apa yang akan mereka dapatkan yang mereka fikirkan hanya menebus kesalahan masa lalu yang menghantuinya selama ini.
Mereka berjanji pada diri mereka sendiri, jika suatu saat meraka bertemu dengan keluarga korban akan langsung memita maaf pada saat itu juga. Tanpa memikirkan perbuatan atau kata-kata apa yang akan mereka terima.Ketika akan masuk ke ruangan abahnya di salah satu rumah sakit ternama di kota Bandung. Bima tertegun ketika mengetahui bosnya berada dalam ruangan tersebut. Ia pernah mengajak Amree sekaali ketika ia ingin melihat abahnya, namun tidak menyangka bosnya akan kembali lagi kesini dengan membicarakan sesuatu yang penting seperti saat ini. Ketika ia akan mengetuk pintu, samar-samar ia mendengar percakapan yang hangat antara mereka berdua. Lalu diurungkan niatnya untuk masuk dan menunggu pembicaraan mereka selesai. Detak jantung Bima seakan berhenti berdetak ketika mengetahui kenyataan yang dirahasiakan oleh abahnya selama ini. Kenyataan itupun membuat Bima kecewa sekaligus marah terhadap abahnya.
Setelah menyetahui kebenaran yang terungkap itu Bima ingin marah kepada Amree, namun ia sadar saat itu Amree bukalah Amree yang sekarang. Namun hanyalah Amree yang tak mempunyai kekuatan apapun meski hanya menyelesaikan masalahnya tersebut. Bima yakin abah dan Amree adalah orang baik yang terjebak dalam kondisi yang buruk. Dengan bermodalkan keputusasaan Bima ingin memisahkan hubungan Amree dan Winda yang mulai membaik itu. Ia memanfaatkan Kinanti untuk menjalankan rencananya. Bima mengerti Kinanti masih memendam rasa kepada Amree selama 10 tahun terakhir. Entah apa yang membuatnya berfikiran seperti itu, namun ia bisa merasakan adanya perasaan yang sama selama renggang waktu itu. Rencana Bima seakan dibantu oleh Sang Pencinta yang menempatkan Kinanti sebagai bos Winda. Rencana itupun berjalan lancar.
Entah dari mana tiba-tiba Maha mengetahui rencana Bima. Maha pun  menolak meski ia memiliki rasa yang sama dengan yang Kinanti rasakan. Melihat orang yang dicintai bersama dengan orang lain.
" Kamu lihat saja Maha, sampai dunia terbelah pun mereka takkan bisa bersatu". (h. 267.)

Sampai suatu hari ketika Maha berjalan-jalan di suatu mall ia bertemu dengan Winda yang sedang menunggu seseorang di salah satu restoran. Maha menghentikan kakinya yang menuju ke ara Winda ketika sosok Kinanti datang dari arah yang berlawanan dengannya. Enggan tuk menghampiri mereka berdua dan meninggalkannya, membuat Maha berputar-putar di tempat ia berdiri. Sampai tak sadar seorang waitter menghampirinya. Maha segera mengambil tempat duduk yang memudahkannya untuk mengawasi Winda dan memesan minuman. Tiba-tiba Kinanti pergi di sertai air mata Winda yang mengalir tanpa henti. Maha masih tetap mengawasinya sampai Winda pulang ke rumahnya dengan aman tanpa menunjukkan batang hidungnya terhadap wanita pujaannya. Ia takut jika kemunculannya akan memperburuk suasana hati Winda.
Perubahan sikap Winda membuat Amree menjadi kacau. Ia berada di dalam kantor, namun pikirannya berada pada Winda. Ia mempunyai firasat yang tidak baik terhadap Winda. Tanpa sadar langkahnya menuntun Amree menuju rumah Winda. Dari kejauhan Amree melihat sosok samar dari Marwan dan Bima dibelakangnya dengan menggenggam kursi roda. Setelah beberapa langkah mendekat Amree bisa melihat sosok itu semakin jelas. Dan dugaannya benar. Ingin Amree menyelinap diantara mereka namun kesopanan yang diajarkan Sarifah kepada dirinya selalu diingatnya dimanapun ia berada. Jadi ia menunggu hingga waktu yang tepat untuk mengetuk pintu yang dinantikannya itu. Hingga suatu kenyataan baru menghentak hati Amree. Kenyataan bahwa korban adalah ayah Winda. Semua itu membuat kaki Amree terkulai lemas. Amree memaksakan diri untuk menuju ke ruang tamu yang mungkin tak akan ia datangi dalam beberapa tahun kedepan.
Ketika berada di daun pintu ia disambut pelukan dan isakan dari Winda. Amree menyerap semua yang ia butuhkan saat ini. Aroma khas dari rambutnya, lengan lembut yang melingkari tubuh tegapnya, dan badan mungil yang berandar dengan sempurna di tubuhnya. Nafas yang mulai teratur dan lengan yang sedikit melonggar mengakhiri kenyamanan Amree. Menimbulkan rasa khawatir akan apa yang terjadi padaya. Dengan senyuman getir yang menjadi pembuka ucapannya Amree menceritakan semua kejadian masa lalunya dan sangat mengharapkan kata maaf yang keluar dari semua orang yang sekarang menatap ke arahnya. Hembusan nafas lega ketika selesai menjelaskan semuanya. Dan itu juga akan menandakan hubungan mereka akan berakhir disini, ditempat ini, disaat ini juga. Hukuman yang Amree terima adalah menekam di penjara selama 3 tahun. Di sana ia dapat bersosialisasi denga teman sekamarnya yang menjadi pimpinan para napi. Hidup di balik terali besi tida seburuk yang ia kira. Ia masih bisa bercakap-cakap dengan sesama napi dan ia juga dapat meneruskan melukis meskipun melukis di dalam penjara.
Setiap berapa bulan sekali ada acara festifal napi. Dimana acara tersebut mengumpulkan semua kerajinan hasil para napi untuk di jual di festifal tersebut. Amree selalu menyumbang lukisannya. Lukisan Winda dari segala sisi yang paling banyak peminatnya. Amree melukis semua senyum manis Winda yang masih terpatri di ingatannya sembari berdoa agar suatu hari nanti ia akan mendapat maaf dari sang kekasih.
" Aku ingin kembali ke masa-masa indah itu, win. Mungkin bila kamu berada di sini, kamu bisa rasakan hentakan jantungku yang berteriak memanggilmu. Bibirku yang kaku merindukan kata cintadan mataku yang redup merindukan bayang pesonmu." (h. 363.)

Tak disangka ternyata di luar sana banyak peminat lukisan Amree. Dalam beberapa bulan saja Amree sudah dikenal dengan julukan " si pelukis penjara ". Winda menyadari bahwa hatinya akan tetap kembali ke tempat awal ia melepaskannya, Amree.

            " Baiklah, hari ini telah kusiapkan hatiku untuk memulai kisah ini dari awal. Kembali tersenyum kala melihat kelakuan bodoh kekasihku yang biasa diperbuatnya. Maafkan aku, amree." (h.363.)
Ia menyesali sikap yang gegabah terhadap keputusan yang ia ambil untuk menjauhi Amree. Menyalahkan semuanya kepada Amree daan mulai membencinya. Namun hati tak dapat mengingkari, sebesar apapun Winda membenci rasa rindu yang mendalam yang ia raakan. Dari Amree lah ia pergi, maka suatu saat ia pun akan kembali menuju titik awal ia pergi. Amree.
" Kejamkah bila aku terus menyalahkan lelaki itu? Seperti yang dikaatakan Wisnu. Ada dan tidak ada Amree, Ayah pasti akan pergi juga. Meskipun kukuh kupaksakan amarah ini, sesungguhnya sejak lama dendam ini memudar. Beebaur dengan kerinduan yang tak terelakkan. Cinta. Cintaku membutakan dendam yang selama ini menjalar ke seluruh tubuh. Memporak porandakan keegoanku sebagai perempuan berhati baja. Kenyataannya aku lengah hanya karena pesona lelaki berhati mulia. Ayah, ijinkan aku mencintainya. Aku ingin berdamai dengan hatiku dan membiarkan diri ini dimiliki olehnya." (h. 362.).

            akhirnya cintapun tak dapat berpaling lagi. Dan semua masalah pasti ada hikmah yang dapat dipetik. Kunci menjalani semua masalah hanya dengan  kesabaran dan kepercayaan satu sama lain.
" Akhirnya aku dapatkan surgaku. Terima kasih, Tuhan. Bertahun-tahun menggenggam perasaan bersalah seorang diri, memikul penderitaan dan penyesalan. Kini semua terbayar lunas dengan kenikmatanMu. Terima kasih Kau takdirkan aku terjebak masa sulit selama sepuluh tahun. Takkan kusesali lagi jika itu menghubungkan aku dengan seseorang, belahan jiwaku. Bidadari yang mampu membawaku ke surga terindah di dunia." (h.367.)

           
Dan dengan cinta semuanya dapat terjawab. Just love
" Iya. Hanya butuh cinta untuk melengkapi hidup. Sisanya kita berusaha atas nama cinta itu sendiri " (h. 373.)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar