Judul Resensi : Hati Tak Dapat Membohongi
Judul Buku : Cinta Tak Mendendam
Penulis :
Petra Shandi
Resensator : Aldelia Shielda Rasyid
Penerbit :
Zettu
Tahun Terbit : 2013
Halaman :
ix + 382
ISBN : 978-602-7999-73-2
Cetakan ke : Satu (Tahun 2013)
Jenis Buku : Fiksi
Jenis Kertas : Bookpaper
Harga :
Rp 65.000,00
Novel
perdana yang ditulis Petra Shandi berjudul Cinta Tak Mendendam terbit pada tahun 2013. Disusul dengan terbitnya novel
berjudul Cattelya (Buku Solo), Pirouette Love ( kolaborasi dengan M.Arif Budiman dan Erlinda Jilly
Madhan), Antologi Senarai Tarian Imaji,
Kumpulan Cerpen Bersoundtrack 100% Cinta,
Antologi World Of Fantasy, Antologi Kita Kata Cinta, Ketika Aku Halal Untukmu, Antologi Patah hati, Dalam Genggaman Tangan
Tuhan, Writing Dream, dan
beberapa antologi lain yang sedang dalam proses terbit. Pria yang lahir di Subang
pada Pebruari 1983
ini memiliki berbagai macam hobi. Hobi yang ia sukai selain menulis adalah
memberikan motivasi kepada para penulis pemula. Sebenarnya ini tidak dapat
dikatakan sebagai hobi, namun karena sering melakukannya maka Beliau sendiri
yang menyatakan hobi barunya itu. Ia berpendapat bahwa " tidak ada yang hobi yang memiliki sifat negatif hanya saja bagaimana cara mengapresiasikannya
yang dapat menimbulkan dampak negatif". Untuk menyalurkan bakat dan
hobinya, ia bergabung dalam grup Pustaka Inspirasi-ku. Beliau juga tak
segan-segan memberi contoh langsung bagaimana cara menulis cerpen yang benar
terhadap para penulis pemula.
Amree jatuh cinta pada seorang perempuan yang
menghubungkannya dengan kisah tragis masa lalunya. Sepuluh tahun yang lalu,
tanpa sengaja dirinya menabrak mati seorang lelaki bernama Budi Irawan. Lewat
politik uang yang dimainkannya. Hadi berhasil menyuap aparat kepoisian dan
menbungkam mulut Marwan, saksi tunggal atas kejadian sepuluh tahun silam itu.
Takdir mempertemukan Amree dengan Winda. Rahasia perlahan terbuka kala
diketahui Bima, sekretaris Amree sekaligus anak dari saksi mata, Marwan.
Puncaknya Bima mengetahui Winda adalah anak Budi Irawan dari Wisnu. Rahasia tersibak saat Marwan bersikeras menemui
keluarga Budi Irawan yang tanpa disadari Amree tepat berada di sana pengakuan tersebut.
Bagaimana nasib Amree selanjutnya? Lalu cinta
mereka? Nama baik
keluarganya? Dan kelangsungan
Quantum? Apakah Amree
dapat menyelesaikan sekian banyak masalah dalam satu waktu?
Sampulnya menarik, pemilihan warna yang lembut dan
ilustrasi padang rumput dengan sebuah pintu tertutup dan awan berbentuk hati.
Bahasa yang digunakan memudahkan pembaca memahami isi cerita. Menarik minat
pembaca dari awal cerita karena dalam novel ini bahasanya sangat komunikatif.
Semua tokoh dalam cerita ini mempunyai benang merah yang menghubungkan mereka.
Selain percintaan, buku ini juga menceritakan tentang sosok ayah dengan kisah
yang berbeda-beda tiap tokohnya.
Dibeberapa halaman ada diksi dan
penempatan kata yang kurang tepat. Kesalahan tersebut dapat kita jumpai pada halaman
221, kurang kata satu. Halaman 261, kurang kata mendengar. Halaman 319, pengulangan
kata tidak. Halaman 325, seharusnya celoteh maha.
Novel Cinta Tak Mendendam ini sangat
inspiratif, dapat menjadi inspirasi bagi penulis pemula. Mungkin cerita ini kesannya
'sinetron' banget, tapi dijamin para pembaca tidak akan kecewa karena ceritanya
tidak flat. Beberapa bagian mungkin bisa ditebak, tapi konflik yang dihadirkan
sangat menarik. Direkomendasikan bagi anda pecinta novel romance yang mencari
cerita yang ringan. Novel ini juga sangat direkomendasikan bagi anda penyuka
Korea. Belakangan ini budaya Negeri Gingseng sedang marak, khususnya drama.
Pola cerita dan karakter para tokoh mirip dengan tokoh di drama-drama Korea. Tapi
gaya bahasanya tetap Indonesia, ber-setting di Bandung dan budaya lokal tetap
kental terasa.
Jika dilihat dari sampulnya, pembaca
tak akan menyangka bahwa cerita yang disuguhkan akan menangandung makna
ketakutan, kekecewaan dan penyesalan. Sampul hanya dapat mewakili akhir cerita
yang indah dan tenang tidak menggambarkan isi cerita secara utuh. Namun dari
itu pula penulis memberi kesan tersirat pada pembaca. Penggambaran setiap
tokohnya sangat detail sehingga mempermudah pembaca untuk mengikuti cerita yang
disajikan. Pembangunan sifat, suasana dan tokohnya memberikan kesan tersendiri
bagi pembaca novel Cinta Tak Mendendam
ini.
SINOPSIS
Tersiar kabar bahwa Amree lah yang
akan menggantikan posisi ayahnya, Hadi Prabowo sebagai direktur utama di Quantum.
Berita itu juga ditegaskan oleh neneknya Sarifah yang memimpin pada rapat
keluarga membahas tentang siapa yang akan menjadi penerus Quantum nanti. Rasa
iri itu datang begitu cepat menguasai Maha, sepupu Amree yang selalu di nomor
duakan oleh neneknya sendiri. Ia merasa ialah yang pantas menduduki posisi
tersebut karena mempunyai andil yang besar dalam memajukan perusahaan hingga
sebesar saat ini. Namun ia tak tidak punya pilihan lain selain menyetujui hasil
rapat tersebut. Ia dan Bagas, ayahnya tidak dapat mengoreksi bahkan membantah
keputusan tersebut. Karena setiap keputusan Sarifah bersifat mutlak dan tidak
dapat diganggu gugat oleh siapapun. Selain itu mereka juga mengingat tuduhan
Sarifah yang menyalahkan Bagas sebagai sebab putrinya, Sophia meninggal 25
tahun silam tepat saat Maha berumur 5 tahun.
Disisi
lain Amree tidak menyutujui keputusan tersebut. Semua beban serasa berada di
pundaknya saat ini. Bayang-bayang kecelakaan sepuluh tahun silampun masih belum
dapat disembuhkannya. Hingga usianya kini genap 33 tahun, kecelakaan naas yang
merenggut korban jiwa itu selalu terbayang ketika malam datang. Kejadian itu
bagai video yang diputar berulang-ulang di mata yang terpejam hingga mimpi
buruk menghiasi setiap malamnya. Kejadian itu bermula saat ia akan pulang ke
apartemen setelah bersenang-senang bersama teman-temannya semalam suntuk. Ia
memaksa pulang pada pukul 2 dini hari. Ketika itu ia memacu mobilnya dengan
kecepatan tinggi dengan keadaan mengantuk.
Ia
sadar beberapa detik setelah
mengerjapkan mata. Dalam sekelebatan mata ia melihat orang yang berdiri di
tengah jalan sedang menyeberang. Berusaha menguasai mobil yang melaju dengan
kecepatan tinggi menuju satu titik yang sekarang membatu di sana, mengerti
takdir akan menjemputnya. Amree menginjak rem dengan satu pijakan keras, suara
berdecit terdengar sangat nyaring. Hingga suara hantaman keras menghentikan
laju mobil tersebut. Amree segera turun dari mobil dan melihat sekitarnya yang
sangat sepi. Ia menghampiri sang korban, memeriksa detak jantung yang berdetak
sangat lemah. Hembusan nafas lemah membuat Amree sedikit bernafas lega. Tak
jauh dari jalan, ada seorang pemuda yang melihat kejadian yang terjadi beberapa
detik lalu. Ia tertegun ketika melihat wajah Amree yang memucat. Ketika sadar,
pria itu langsung meraih HP dari kantong baju yang lusuh.
Amree
menghamipirinya ketika suara berat menjawab diseberang telfon. Reflek,
tangannya menggenggam erat dan memohon agar tidak melanjutkam pembicaraan yang
ia ketahui diseberang telfon sana adalah seorang polisi. Setelah malam itu
Amree tidak keluar kamar selama 2 hari. Amree baru keluar dari kamarnya
seetelah mendengar bahwa korban yang ia tabrak itu tewas dalam perawatan para
dokter. Ia pun tak melihat media yang memuat berita tersebut dan para pihak
berwajib yang akan membawanya ke sel jeruji besi yang dingin. Semuanya telah
disuap oleh Hadi dengan uang yang nominalnya sangat besar. Termasuk dengan
saksi mata tunggal malam itu.
Hingga
akhirnya ia mengalami depresi yang berkepanjangan dan sangat mempeharuhi
pertumbuhan mentalnya. Ia pun tak segan-segan melukai dirinya sendiri ketika
bayangan itu muncul. Keadaan Amree semakin hari semakin memburuk hingga membuat
cemas semua keluarganya, sehingga mereka membawa Amree ke dokter psikologi
bernama Dimas. Terapi pun mulai dijalani Amree selama 5 tahun dan keadaanya
mulai stabil sejak itu. Namun sejak itu pula Amree tergantung oleh obat
penenang yang diberi oleh dokter Dimas kepadanya. Amree telah lama menggeluti
dunia lukis. Karena itu pula ia menolak untuk menjadi penerus Quantum di tempo
hari. Ia selalu melukiskan tentang yang ia alami. Ia juga melukis Budi Irawan,
korban jiwa dalam kecelakaan 10 tahun silam.
Mengetahui
anaknya akan menolak untuk menggantikan posisinya sebagai direktur. Hadi
menemui Amree di apartemennya untuk membujuk anaknya agar mau menjadi penerus
perusahaan Quantum. Kemarahan Amree meladak pada saat itu juga karena
menganggap keluarganya tidak menghargai pendapatnya dan meninggalkan Hadi
ketika ia memanggil nama Amree dengan nada tinggi yang memenuhi ruangan. Ia
menelusuri jalan dalam kegelapan tanpa tujuan. Hingga langkahnya berhenti di
sebuah apartemen mewah yang penghuninya tak lain adalah sepupunya, Maha. Dengan
keraguan ia perlahan menuju pinta dan mengetuk pelan, tak lama ketika maha membukanya
Amree langsung bergelung di sofa dan menceritakan soal perusahaan itu. Seketika
itu juga wajah Maha berubah menjadi merah padam ketika Amree menceritakan
tentang posisi yang akan diberikan padanya.
Maha
hanya bisa menyembunyikan rasa irinya dalam sebuah senyuman dan memberi
beberapa saran pada Amree. Setelah merasa tenang Amree ijin untuk pulang.
Ditengah perjalanan hujan turun tanpa diundang dengan derasnya hingga memaksa
Amree berteduh. Tak jauh dari tempat ia berdiri ada halte yang temaram. Dengan
berlari-lari kecil ia sampai di halte itu, namun sia-sia ia berlari tadi karena
sekarang bajunya sudah basah kuyup ditambah lagi dengan angin bertiup sedang hingga membuatnya
menggigil. Tanpa ia sadari yang berada di halte hanya ia dan seorang gadis yang
entah mengapa membuat jantungnya berdegub lebih kencang dari biasanya. Mata
Amree tak dapat beralih dari paras cantik gadis yang pergi menjauhinya dan
hilang di tikungan jalan bersama sang adik yang menjemputnya. Amree
membayangkan gadis kecil yang duduk tak jauh darinya beberapa menit lalu dan
menghirup dalam-dalam aroma yang ditinggalkannya. Amree berharap dapat bertemu
gadis kecil itu lagi.
Pagi
itu Amree cukup dibuat pusing oleh mobilnya yang sudah 3 kali masuk bengkel
dalam sebulan terakhir ini. Ternyata pusing terhadap mobilnya belum berhenti,
ia mendadak ditugaskan oleh kantornya untuk menghadiri rapat penting di jalan
Asia-Afrika. Padahal jalan itu lumayan jauh dari kantornya. Ada pemikiran untuk
menggunakan mobil kantornya, namun tak beruntungnya Amree hari itu. Mobil
kantorpun semua sudah digunakan oleh teman sekantornya. Bima, sekertarisnya
menyarankan untuk menggunakan angkot atau taksi. Karena tak punya banyak
pilihan Amree memilih naik taksi, namun hampir setengah jam ia menunggu tak ada
satupun taksi yang kosong untuknya. Dengan berat hati ia memilih angkot sebagai
kendaraannya saat ini dan berharap angkutan itu tidak penuh. Rasa kelegaan
Amree meluap ketika melihat angkutan itu tak sepenuh yang ia pikirkan.
Tak
sengaja pandangannya jatuh dimata gadis yang duduk tepat di depannya. Butuh
waktu lima detik bagi Amree untuk mengingat siapa gadis itu. Merasa
diperhatikan gadis itu salah tingkah dan ada roda merah dikedua pipinya.
Pemandangan itupun membuat Amree menjadi kikuk, dalam hatinya ia ingin
memanggil gadis itu namun dia sendiri tidak tau namanya dan mempunyai inisiatif
tuk mengajak berkenalan. Amree mngulurkan tangan dan menyebutkan namanya,
nnamun tak ada tanda-tanda tangan gadis itu akan menyambut tangannya maka
dengan dengan perasaan malu atas pandangan mata yang tertuju padanya ia
menurunkan tangan dan mengistirahatkan di kedua lututnya. Ada senyum sinis yang
terbingkai di parasnya yang cantik membuat Amree yang melihat semakin geram
dibuatnya. Tak lama gadis itu turun dengan pandangan yang menyiratkan "
rasain lu " yang ditujukan pada Amree.
Amree
pun tak mengindahkan pandangan yang ditujukan kepadanya itu. Teringat akan
tujuannya ia turun dengan tergesa-gesa karena jalan Asia-Afrika sudah terlewat
jauh. Baru 2 langkah menjauhi angkot ia dihantam kendaraan bermotor. Untungnya
kecepatan motor itu masih tergolong pelan. Setelah membersihkan debu dan
melihat ada beberapa luka ringan di sekitar lengannya, ia berniat memarahi anak
yang menabraknya itu namun diurungkannya ketika menyadari bahwa yang sekarang
berada di dekatnya adalah adik dari gadis di angkot tadi. Anak laki-laki itu
memperkenalkan namanya Wisnu dan kakaknya Winda. Wisnu membawa Amree ke
rumahnya untuk mengobati lukanya. Ketika sampai di depan rumah tiba-tiba pintu
terbuka. Dengan mata yang terbelalak Winda
membawa Amree dan adiknya masuk. Winda dan ibunya membagi tugas untuk
mengobati kedua laki-laki tersebut. Winda mengobati Amree dan ibunya mengobati
Wisnu. Mata yang tak dapat berkedip, nafas yang tercekat di tenggorokan dan
desiran atas sentuhan yang mendarat di tubuh Amree memberikan efek tersendiri
bagi khayalan yang mempenuhi akalnya saat itu.
" Coba aja kamu lebih gentle sedikit, mungkin
aku naksir sama kamu. ini ngajak berantemmelulu." (h.66.)
Kejadian
itu menjadi awal kedekatan Amree dengan Winda. Diluar dugaannya, Amree diterima
sangat baik oleh keluarga Winda terutama sang ibu yang menganggap Amree sebagai
anaknya sendiri. Itu membuat Amree kembali mengingat serpihan ingatan kecilnya
pada masa lalu. Betapa indahnya hidup dengan anggota keluarga yang lengkap dan
saling menyayangi. Keadaan itu membuat Amree merasa nyaman di tegah keluarga
Winda. Lalu beberapa bulan setelahnya Amree mengatakan perasaannya kepada
Winda. Tanpa diduga Amree reaksi Winda membuat Amree khawatir. Bagaimana tidak
ketika Amree selesai berbicara tangisan Winda pecah saat itu juga. Namun itu
hanya tangisan kebahagia Winda.
" Seandainya waktu itu datang, dan aku harus
membayar kesalahanku di sel penjara.
Mungkin tak bisa lagi mengungkapkan kata cinta ini." (h. 216.)
Dengan
desakan Sarifah, Amree memperkenalkan Winda dengan keluarga besarnya. Yang
membuat Winda kaget adalah kehadiran Maha. Sebenarnya ia lebih dulu kenal
dengan Maha dari pada dengan Amree. Ia pun masih mengagumi sosok Maha hingga kini.
" Kamu tau Maha, kamu itu terlalu sempurna.
Saking hebatnya aku tidak bisa menemukan sesuatu disana". (h. 67.)
Hingga
suatu hari Amree dipertemukan oleh saksi mata tunggal atas kejadian 10 tahun
silam yang telah ia kubur dalam hidupnya. Tanpa di duga saksi mata itu tak lain
adalah abah Bima yang bernama Marwan.
" Pada awalnya abah akan menceritakan semua
kebenaran pada polisi. Namun tiba-tiba tubuh abah dihalau segerombolan preman
yang memaksa abah memasuki mobil mewah. Di sana pengusaha ternama Hadi Prabowo
menawarkan sesuatu yang membuat imam abah goyah. Uang seratus juta untuk
menutupi pelanggaran anaknya. Abah yang sedang kalut saat itu tidak bisa
berbuat apa-apa. Seratus juta bisa untuk biaya kehidupanmu kelak. Di sanalah
semuanya berawal."
(h. 362.)
(h. 362.)
Kelegaan
terasa setelah keduanya menumpahkan isi hati masing-masing. Namun kelegaan
sebenarnya akan terasa ketika sudah meminta maaf kepada pihak korban. Marwan
ingin meminta maaf atas pengakuan palsunya dan Amree igin meminta maaf atas
perbuatannya yang membiarkan keluarganya menutupi segalanya dengan uang yang
mereka miliki dan yang paling penting adalah meminta maaf atas perbuatannya
sendiri. Entah konskwensi apa yang akan mereka dapatkan yang mereka fikirkan
hanya menebus kesalahan masa lalu yang menghantuinya selama ini.
Mereka
berjanji pada diri mereka sendiri, jika suatu saat meraka bertemu dengan
keluarga korban akan langsung memita maaf pada saat itu juga. Tanpa memikirkan
perbuatan atau kata-kata apa yang akan mereka terima.Ketika akan masuk ke
ruangan abahnya di salah satu rumah sakit ternama di kota Bandung. Bima
tertegun ketika mengetahui bosnya berada dalam ruangan tersebut. Ia pernah
mengajak Amree sekaali ketika ia ingin melihat abahnya, namun tidak menyangka
bosnya akan kembali lagi kesini dengan membicarakan sesuatu yang penting
seperti saat ini. Ketika ia akan mengetuk pintu, samar-samar ia mendengar
percakapan yang hangat antara mereka berdua. Lalu diurungkan niatnya untuk
masuk dan menunggu pembicaraan mereka selesai. Detak jantung Bima seakan
berhenti berdetak ketika mengetahui kenyataan yang dirahasiakan oleh abahnya
selama ini. Kenyataan itupun membuat Bima kecewa sekaligus marah terhadap
abahnya.
Setelah
menyetahui kebenaran yang terungkap itu Bima ingin marah kepada Amree, namun ia
sadar saat itu Amree bukalah Amree yang sekarang. Namun hanyalah Amree yang tak
mempunyai kekuatan apapun meski hanya menyelesaikan masalahnya tersebut. Bima
yakin abah dan Amree adalah orang baik yang terjebak dalam kondisi yang buruk.
Dengan bermodalkan keputusasaan Bima ingin memisahkan hubungan Amree dan Winda
yang mulai membaik itu. Ia memanfaatkan Kinanti untuk menjalankan rencananya.
Bima mengerti Kinanti masih memendam rasa kepada Amree selama 10 tahun
terakhir. Entah apa yang membuatnya berfikiran seperti itu, namun ia bisa
merasakan adanya perasaan yang sama selama renggang waktu itu. Rencana Bima
seakan dibantu oleh Sang Pencinta yang menempatkan Kinanti sebagai bos Winda.
Rencana itupun berjalan lancar.
Entah
dari mana tiba-tiba Maha mengetahui rencana Bima. Maha pun menolak meski ia memiliki rasa yang sama
dengan yang Kinanti rasakan. Melihat orang yang dicintai bersama dengan orang
lain.
" Kamu lihat saja Maha, sampai dunia terbelah
pun mereka takkan bisa bersatu". (h. 267.)
Sampai
suatu hari ketika Maha berjalan-jalan di suatu mall ia bertemu dengan Winda
yang sedang menunggu seseorang di salah satu restoran. Maha menghentikan
kakinya yang menuju ke ara Winda ketika sosok Kinanti datang dari arah yang
berlawanan dengannya. Enggan tuk menghampiri mereka berdua dan meninggalkannya,
membuat Maha berputar-putar di tempat ia berdiri. Sampai tak sadar seorang
waitter menghampirinya. Maha segera
mengambil tempat duduk yang memudahkannya untuk mengawasi Winda dan memesan
minuman. Tiba-tiba Kinanti pergi di sertai air mata Winda yang mengalir tanpa
henti. Maha masih tetap mengawasinya sampai Winda pulang ke rumahnya dengan
aman tanpa menunjukkan batang hidungnya terhadap wanita pujaannya. Ia takut
jika kemunculannya akan memperburuk suasana hati Winda.
Perubahan
sikap Winda membuat Amree menjadi kacau. Ia berada di dalam kantor, namun
pikirannya berada pada Winda. Ia mempunyai firasat yang tidak baik terhadap
Winda. Tanpa sadar langkahnya menuntun Amree menuju rumah Winda. Dari kejauhan
Amree melihat sosok samar dari Marwan dan Bima dibelakangnya dengan menggenggam
kursi roda. Setelah beberapa langkah mendekat Amree bisa melihat sosok itu
semakin jelas. Dan dugaannya benar. Ingin Amree menyelinap diantara mereka
namun kesopanan yang diajarkan Sarifah kepada dirinya selalu diingatnya
dimanapun ia berada. Jadi ia menunggu hingga waktu yang tepat untuk mengetuk
pintu yang dinantikannya itu. Hingga suatu kenyataan baru menghentak hati
Amree. Kenyataan bahwa korban adalah ayah Winda. Semua itu membuat kaki Amree
terkulai lemas. Amree memaksakan diri untuk menuju ke ruang tamu yang mungkin
tak akan ia datangi dalam beberapa tahun kedepan.
Ketika
berada di daun pintu ia disambut pelukan dan isakan dari Winda. Amree menyerap
semua yang ia butuhkan saat ini. Aroma khas dari rambutnya, lengan lembut yang
melingkari tubuh tegapnya, dan badan mungil yang berandar dengan sempurna di
tubuhnya. Nafas yang mulai teratur dan lengan yang sedikit melonggar mengakhiri
kenyamanan Amree. Menimbulkan rasa khawatir akan apa yang terjadi padaya.
Dengan senyuman getir yang menjadi pembuka ucapannya Amree menceritakan semua
kejadian masa lalunya dan sangat mengharapkan kata maaf yang keluar dari semua
orang yang sekarang menatap ke arahnya. Hembusan nafas lega ketika selesai
menjelaskan semuanya. Dan itu juga akan menandakan hubungan mereka akan
berakhir disini, ditempat ini, disaat ini juga. Hukuman yang Amree terima
adalah menekam di penjara selama 3 tahun. Di sana ia dapat bersosialisasi denga
teman sekamarnya yang menjadi pimpinan para napi. Hidup di balik terali besi
tida seburuk yang ia kira. Ia masih bisa bercakap-cakap dengan sesama napi dan
ia juga dapat meneruskan melukis meskipun melukis di dalam penjara.
Setiap
berapa bulan sekali ada acara festifal napi. Dimana acara tersebut mengumpulkan
semua kerajinan hasil para napi untuk di jual di festifal tersebut. Amree
selalu menyumbang lukisannya. Lukisan Winda dari segala sisi yang paling banyak
peminatnya. Amree melukis semua senyum manis Winda yang masih terpatri di
ingatannya sembari berdoa agar suatu hari nanti ia akan mendapat maaf dari sang
kekasih.
" Aku ingin kembali ke masa-masa
indah itu, win. Mungkin bila kamu berada di sini, kamu bisa rasakan hentakan
jantungku yang berteriak memanggilmu. Bibirku yang kaku merindukan kata
cintadan mataku yang redup merindukan bayang pesonmu." (h. 363.)
Tak
disangka ternyata di luar sana banyak peminat lukisan Amree. Dalam beberapa
bulan saja Amree sudah dikenal dengan julukan " si pelukis penjara ".
Winda menyadari bahwa hatinya akan tetap kembali ke tempat awal ia
melepaskannya, Amree.
" Baiklah, hari ini telah kusiapkan hatiku untuk memulai kisah ini dari awal. Kembali tersenyum kala melihat kelakuan bodoh kekasihku yang biasa diperbuatnya. Maafkan aku, amree." (h.363.)
Ia menyesali
sikap yang gegabah terhadap keputusan yang ia ambil untuk menjauhi Amree. Menyalahkan
semuanya kepada Amree daan mulai membencinya. Namun hati tak dapat mengingkari,
sebesar apapun Winda membenci rasa rindu yang mendalam yang ia raakan. Dari
Amree lah ia pergi, maka suatu saat ia pun akan kembali menuju titik awal ia
pergi. Amree.
" Kejamkah bila aku terus menyalahkan lelaki
itu? Seperti yang dikaatakan Wisnu. Ada dan tidak ada Amree, Ayah pasti akan
pergi juga. Meskipun kukuh kupaksakan amarah ini, sesungguhnya sejak lama
dendam ini memudar. Beebaur dengan kerinduan yang tak terelakkan. Cinta.
Cintaku membutakan dendam yang selama ini menjalar ke seluruh tubuh. Memporak
porandakan keegoanku sebagai perempuan berhati baja. Kenyataannya aku lengah hanya
karena pesona lelaki berhati mulia. Ayah, ijinkan aku mencintainya. Aku ingin
berdamai dengan hatiku dan membiarkan diri ini dimiliki olehnya." (h.
362.).
akhirnya cintapun tak dapat berpaling lagi. Dan semua masalah pasti ada hikmah yang dapat dipetik. Kunci menjalani semua masalah hanya dengan kesabaran dan kepercayaan satu sama lain.
akhirnya cintapun tak dapat berpaling lagi. Dan semua masalah pasti ada hikmah yang dapat dipetik. Kunci menjalani semua masalah hanya dengan kesabaran dan kepercayaan satu sama lain.
" Akhirnya aku dapatkan surgaku.
Terima kasih, Tuhan. Bertahun-tahun menggenggam perasaan bersalah seorang diri,
memikul penderitaan dan penyesalan. Kini semua terbayar lunas dengan
kenikmatanMu. Terima kasih Kau takdirkan aku terjebak masa sulit selama sepuluh
tahun. Takkan kusesali lagi jika itu menghubungkan aku dengan seseorang,
belahan jiwaku. Bidadari yang mampu membawaku ke surga terindah di dunia."
(h.367.)
Dan dengan cinta semuanya dapat terjawab. Just love
Dan dengan cinta semuanya dapat terjawab. Just love
" Iya. Hanya butuh cinta untuk
melengkapi hidup. Sisanya kita berusaha atas nama cinta itu sendiri " (h.
373.)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar